Tampilkan postingan dengan label Kolom Aktivis. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kolom Aktivis. Tampilkan semua postingan

Jumat, 12 Februari 2010

Merenovasi Mimpi Rumah Cahaya

Jumat sore, ketika langit kota Depok mulai dinaungi mendung, saya beserta anak dan istri melintas di jalan Keadilan Raya dengan Thunder merah. Bangunan berlantai dua yang tengah direnovasi itu tampak menjulang di kejauhan. Saya menepikan motor persis di seberang bangunan bernomor 13 di blok 16 jalan Keadilan Raya itu. Meski langit mulai kelabu, para pekerja masih belum meletakkan perkakasnya. “Targetnya bulan Pebruari, pembangunan selesai,” terang Hendra, pegawai Tabung Wakaf Indonesia (TWI), ketika kami bertemu Jumat, 13 Desember lalu.

Memandangi bangunan itu, ingatan saya berlari mundur ke tahun 2004 dan berhenti tepat di tanggal 22 Februari. Ketika Melvi Yendra—yang saat itu masih jadi redaktur di majalah Annida—mengajak saya bertemu di tempat itu. Ya, hari itu, perpustakaan Rumah Cahaya FLP resmi berdiri. Hari itu, saya bertemu penulis-penulis hebat seperti Asma Nadia, Pipiet Senja, Zainal Radar T., Azimah Rahayu, dan tentu saja Melvi Yendra yang sebelum hari itu nama mereka hanya bisa saya baca dalam sampul buku atau rubrik-rubrik di majalah Annida. Tidak terbayangkan sebelumnya, jika di kemudian hari saya mendapat amanah untuk mengelola tempat itu.

Selepas peresmian itu, saya nyaris tak pernah berkunjung ke tempat itu lagi. Perpustakaan itu lebih banyak dikunjungi anak-anak. Padahal, saya mengira di tempat itulah FLP Depok biasa mengadakan pertemuannya. Sebagai seorang penulis di majalah remaja, tentu ada keinginan saya untuk bisa menerbitkan buku di Lingkar Pena Publishing House (LPPH) yang saya tahu berkantor di Rumah Cahaya. Apa boleh buat, saya memang seorang pemalu. Bahkan setelah saya bertemu Mbak Asma di launching buku Diva karya pengarang paling produktif di FLP, Fahri Asiza, saya tetap tak cukup keberanian untuk menemui kru LPPH.

Sampai kemudian, Aveus Har, sahabat saya sesama penulis di majalah Aneka Yess!, bersama N’Dien, ketua FLP Pekalongan meminta saya mengantar mereka ke LPPH. Seingat saya, saat itulah mula pertama saya bercakap-cakap dengan Nanik Susanti, sebelum Mbak Asma yang sedang ada acara, datang menemui kami bersama Birulaut. Begitulah, jalan bagi saya untuk bisa menerbitkan buku di LPPH makin terbuka. Tawaran dari Mbak Nanik untuk menyerahkan cerpen-cerpen saya yang pernah dimuat di Aneka Yess! saya sambut. Sebulan kemudian saya datang kembali ke tempat itu untuk menyerahkan naskah novel saya, Edelweiss.

Namun, niat saya yang sesungguhnya adalah bisa bergabung dengan FLP Depok dan menimba ilmu dari para senior. Sayangnya, ketika itu FLP Depok tengah mati suri. Saya lupa kapan tepatnya, ketika Muktiar Selawati, sahabat saya sesame penulis Aneka yang datang bersama suaminya, meminta saya mengantarnya ke LPPH untuk menyerahkan naskah. Pada ketika itulah saya bertemu langsung dengan Koko Nata yang namanya tak asing lagi di telinga saya. Koko menceritakan rencana perekrutan anggota baru FLP Depok.

Akhir 2004, tepatnya di bulan Desember, Aceh diterjang Tsunami. Melalui email, Mbak Asma meminta saya menyebarkan poster acara galang dana di Taman Ismail Marzuki, selain juga meminta saya membantu Birulaut—yang belakangan saya kenal sebagai Bang Andi—mendekorasi panggung acara. Saya tak menyia-nyiakan kesempatan itu. Saat itulah saya berkenalan dengan Hendra Veejay dan Ratno Fadillah serta Lian Kagura.

Singkat cerita, Februari 2005 saya resmi bergabung dengan FLP Depok. Namun, niat saya untuk menimba ilmu dari penulis-penulis senior rupanya masih harus saya pendam. Koko malah meminta saya menjadi salah seorang mentor di FLP Depok. Begitulah awal keterlibatan saya dengan FLP Depok. Sampai kemudian Leyla Imtichanah meminta saya membantu mengurusi Rumah Cahaya. Belakangan, saya malah diminta menjadi penanggung jawab Rumah Cahaya Depok. Dan saya pun tumbuh bersama tempat itu.

Cahaya di Rumah Cahaya mulai meredup, ketika saya harus menenggelamkan diri dalam rutinitas pekerjaan di Balai Pustaka dan LPPH yang mulai tumbuh besar memilih mencari tempat baru di akhir 2007. Selepas kepindahan LPPH, begitu banyak tawaran dari masyarakat yang berminat menyewa ruko di depan Rumah Cahaya yang selalu tutup itu. Namun, saya tak berani menerima tawaran itu, karena hingga cahaya itu mulai redup, saya belum juga mendapat kepastian mengenai status Rumah Cahaya terkait Dompet Duafa (DD). Bahkan, baru belakangan saya tahu, kalau bangunan di samping Rumah Cahaya yang digunakan sebagai rumah tinggal oleh tukang-tukang becak yang mangkal di depan Musi, merupakan aset Rumah Cahaya.

Usaha untuk menghubungkan Rumah Cahaya dengan DD bukan tak pernah kami lakukan. Jauh sebelumnya, beberapa kali kami bertemu dengan direktur TWI. Namun, di bulan ramadan tahun 2008-lah tali silaturrahmi yang sempat terputus kembali terhubung kembali. Ketika itu saya bersama Mba Dee, Dhinny, dan Hafi, memenuhi undangan TWI untuk menjernihkan masalah Rumah Cahaya. Pada acara itulah saya baru mengetahui bahwa selama ini belum pernah terjadi penandatanganan MoU antara DD dengan FLP terkait pemanfaatan bangunan wakaf untuk perpustakaan Rumah Cahaya. Padahal selama ini saya sering berkoar-koar bahwa DD telah melalaikan kewajibannya memberi dana operasional, karena begitu informasi yang saya dapat dari pendahulu kami di Rumah Cahaya.

Alhamdulillah, pertemuan itu berjalan dengan baik. Segala kesalahpahaman terselesaikan dengan bijak. Dan TWI mengemukakan rencana untuk merenovasi bangunan wakaf itu. Draf MoU pun telah disepakati di masa akhir kepengurusan Kang Irfan, hanya tinggal menunggu untuk ditandatangani oleh Pak Zaim Saidi (Dirut TWI) dan Mbak Izzatul Jannah (Katum FLP).

Rencana pembangunan ini sempat tertunda cukup lama. Baru pada awal ramadan tahun 2009 proses renovasi dilakukan. Sampai saat ini terhitung sudah 4 bulan renovasi berjalan. Rumah Cahaya yang baru samar-samar itu mulai menampakkan wujudnya.

Langit kota Depok makin kelabu, tetapi masa depan Rumah Cahaya akan secerah pagi di musim semi, insya Allah. Ia tak lagi jadi anak yang tak jelas siapa ayah bundanya. Kini Rumah Cahaya menjadi divisi di bawah koordinasi Sekretaris Jendral FLP yang dijabat oleh Rahmadianti.

Setelah mengambil gambar Rumah Cahaya, saya meninggalkan tempat itu bersama sebuah mimpi yang telah direnovasi. Mimpi baru untuk menebar cahaya bersama Rumah Cahaya melalui pena dan buku. Ah, tak sabar rasanya menjadikan tempat itu sebagai pusat dokumentasi dan informasi karya-karya FLP, selain juga menjadikannya pusat rekreasi dan edukasi bagi masyarakat sekitar, khususnya kaum duafa, sebelum mulai menata Rumah Cahaya yang ada di berbagai daerah. Semoga mimpi ini mendapat dukungan dari seluruh anggota FLP yang konon beranggotakan lebih dari 8000 orang. Amin.

Salam,
Denny Prabowo
Kapuas Dua, 18 Desember 2009

Rabu, 18 Juli 2007

Terpesona Pada Dua Perempuan

Saya kerap terpesona saat mendampingi penulis dalam acara diskusi kepenulisan. Dan pagi itu, Sabtu (18/7) saya kembali dibuat terpesona oleh dua penulis: Naning Pranoto dan Asma Nadia. Saya mendampingi mereka dalam sosialisasi Lomba Cerpen ROHTO di Rumah Cahaya Depok.

Di depan puluhan peserta: siswa-siswi dan guru Bahasa Indonesia di sekitar Rumah Cahaya Depok, Naning Pranoto dan Asma Nadia menceritakan proses kreatifnya. Kalau bicara jam terbang di dunia kepenulisan Naning Pranoto memang sudah berpengalaman. Pengelola rayakultura.net itu pernah bekerja di berbagai majalah seperti Mutiara, Ananda, Halo, dan Jakarta-Jakarta. Ia juga pernah menempuh pendidikan di English Laguage Centre in Academic Writing and Creative Writing University of Western Sidney Australia. Satu hal yang menarik dari penulis yang baru mengeluarkan novel Naga Hongkong ini, ia adalah penulis yang suka mengurung diri selama waktu tertentu guna menyelesaikan satu naskah. Seperti saat menulis novel Naga Hongkong, Naning Panoto mengurung diri sekitar satu bulanan untuk merampungkan cerita.

Sedangkan Asma Nadia, Hmmm saya sempat tak percaya ketika ibu dua anak itu mengatakan sering merasa tidak berbakat dalam menulis. Setelah memenangkan Lomba Cerpen Annidapun ia masih sering bertanya-tanya, “Apakah saya berbakat.” Hingga akhirnya sang kakak Helvy Tiana Rosa menguatkan, “tak perlu bakat untuk bisa menulis. Yang diperlukan adalah berlatih dan kerja keras.”

Hal tersebut disetujui oleh Naning Pranoto. Maka naning berpesan pada bapak dan Ibu guru yang hadir agar tidak mengaitkan tulisan siswa dengan bakat. Hal itu bisa mematikan kreativitas dan kepercayaan diri siswa. Bapak dan Ibu Guru harus menghargai setiap karya siswanya. Kalau jelek, wajar, namanya juga masih belajar.

Berbeda dengan Naning Pranoto yang mengurung diri, Asma adalah penulis yang berusaha bisa menulis dalam kondisi apapun. Tetapi Asma juga menyarankan agar setiap orang punya jam biologis; yang terbaik bagi dirinya untuk menulis. Naning Pranoto mengatakan jam biologinya menulisnya sekitar pukul 3 dini hari dan seterusnya. Sedang Asma Nadia adalah ketika anak-anaknya sudah terlelap.

Akhirnya Naning Pranoto mengumumkan lomba menulis cerpen yang diselenggarakan oleh PT ROHTO. Total hadiahnya 80 juta rupiah, lho! Ada tiga kategori dalam lomba ini: SLTP, SLTA dan Mahasiswa/Umum. Semua bisa ikut asalkan dalam setiap pengiriman naskah menyertakan segel shampo Selsun atau kemasan Lip-Ice.


Meskipun sering menghadiri diskusi menulis, hari itu saya mendapat tambahan ilmu, bahwa keberlanjutan menulis harus dijaga untuk hasil yang maksimal. Kalau bicara soal materi Naning Pranoto dan Asma Nadia telah menikmatinya. Naning Pranoto memebuat beberapa patah kata untuk iklan saja dibayar jutaan rupiah. Sedangkan Asma Nadia, setiap mengeluarkan buku baru, pasti laku, rata-rata terjual di atas 3000 eks dalam hitungan bulanm bahkan minggu saja.

Saya terpesona. Semoga keterpesonaan itu bisa membuat saya, (dan semua peserta yang hadir tentunya) untuk tidak pernah lelah belajar menulis. Di atas segala materi yang didapatkan, kepuasan hati dalam berkarya adalah yang utama, itu yang dikatakan Naning Pranoto dan Asma Nadia di akhir diskusi tersebut.

Salam,
Koko Nata
18/07/2007

Jumat, 09 Desember 2005

Perjalanan ke Rumah Cahaya Pekalongan

Oleh Leyla Imtichanah
Jumat, 9 Desember 2005


Sore itu, langit di Depok mendung. Maaf, sepertinya malah sudah turun hujan. Syukurlah, cuaca yang kurang menyenangkan itu, tidak menghalangi langkah lima orang utusan dari Rumah Cahaya, untuk berangkat ke Pekalongan. Padahal sebenarnya kalau mau menuruti kata hati, rasanya berat… sekali. Kelima orang utusan itu punya beban tersendiri.

Andi Birulaut, utusan dari Rumah Cahaya Pusat, misalnya. Beliau ingin berangkat dengan kereta, yah meskipun hanya dengan kereta ekonomi. Namun, ternyata beliau dan temannya, Tarjo, utusan dari Rumah Cahaya Penjaringan, ketinggalan kereta (ekonomi). Mau tidak mau, mereka harus naik bus. Padahal kabarnya, Andi Birulaut tidak begitu menyukai aroma bus yang membuat mual.

Nanik Susanti, utusan dari Rumah Cahaya Depok, juga merasa agak berat berangkat ke Pekalongan. Kondisi kesehatannya sedang kurang baik. Dengan berbagai penyakit yang melingkupinya. Pusing, mata berkunang-kunang, plus batuk kering yang pasti muncul kalau terkena angin atau udara dingin. Beberapa hari sebelumnya, dia memeriksakan tensi darah, dan terkejut mendapati tensi darahnya naik. Darah tinggi…?! Seumur-umur, baru kali itu Nanik Susanti terkena darah tinggi. Biasanya, tekanan darahnya normal. Untunglah ternyata setelah dicek, belum termasuk darah tinggi, baru pra. Tapi… tetap saja mengkhawatirkan, kan?

Leyla Imtichanah, utusan dari Rumah Cahaya Pusat, tidak terlalu punya beban yang memberatkannya, kecuali cuma rasa malas. Si Leyla ini memang paling tidak suka bepergian jauh. Sudah terbayang repotnya. Meskipun cuma satu hari dan tidak menginap, bawaannya pasti berat. Belum kalau ada yang terlupa. Belum saat di perjalanan. Tidur di bus dalam kondisi duduk, pasti tidak enak. Belum kalau mau buang air kecil, mesti ditahan sampai pemberhentian berikutnya. Itu pula yang menyebabkan dia jarang pulang, ketika masih kuliah di Semarang. Ditambah lagi, Jumat itu dia memakai baju putih-putih (cuma karena mau matchingin dengan sepatu kets pink-nya). Terbayanglah betapa rok putih itu akan kotor terkena percikan tanah). Wah, Leyla manja banget, ya.... Tapi Leyla menyadari, tanpa kehadirannya, rombongan itu pasti akan “sepi.”

Denny Prabowo, utusan dari Rumah Cahaya Depok, sebenarnya paling antusias dalam perjalanan ke Pekalongan ini. Namun, setelah tahu bahwa dia harus membawa dua kardus berisi buku yang sudah tentu berat, dia kebingungan sendiri. Wah... siapa yang bisa bantuin gue, nih? pikirnya. Sebelumnya memang direncanakan, kelima orang itu akan berangkat bersama-sama, tetapi ternyata karena ada sesuatu hal, mereka harus terpisah. Andi Birulaut dan Tarjo baru berangkat selepas Isya, sedangkan Denny Prabowo, Nanik Susanti, dan Leyla Imtichanah berangkat lebih dulu selepas Magrib. Tidak mungkin kan mengandalkan Nanik Susanti yang sedang tidak enak badan, dan Leyla Imtichanah yang bawaannya sendiri saja sudah berat? Satu tas besar berisi pakaian dan peralatan wanita (padahal cuma satu hari dan tidak menginap!), dan satu tas kecil berisi makanan. Untunglah ada Hadi, kru Rumah Cahaya Depok, yang mau membantu membawakan meskipun hanya sampai agen bus. Alhamdulillah, terima kasih, Hadi....

At last, rombongan itu berangkatlah. Kali ini saya bercerita dari sudut pandang Denny Prabowo, Nanik Susanti, dan Leyla Imtichanah. Ketiga orang itu naik bus AC Ekonomi. Dananya memang terbatas. Kalau kurang, ditanggung sendiri. Nanik Susanti sebenarnya malas sekali naik bus. Seperti juga Andi Birulaut, dia selalu merasakan mual setiap kali mencium aroma bus. Pasti muntah. Pasti pusing. Pasti kliyeng-kliyeng. Ternyata, oh ternyata, tidak sebegitunya amat. Nanik Susanti kemudian merasakan bahwa naik bus ternyata juga menyenangkan.

Tak berapa lama, Andi Birulaut menelepon Leyla Imtichanah. Mengabarkan kalau dia baru bisa berangkat selepas Isya dan mungkin sampai di Pekalongan jam tujuh pagi. Belakangan Leyla tahu, kondisi Bang Andi lebih buruk lagi. Dia naik bus ekonomi (kayaknya sih non AC), sebab, di bus itu semua orang merokok. Wah, tersiksa banget, kan....

Sampai jam sembilan (kira-kira), Denny, Leyla, dan Nanik, masih menikmati perjalanan dengan ngemil dan ngobrol. Tak lama, Leyla tertidur. Denny dan Nanik masih mengobrol. Sayup-sayup Leyla mendengar tema obrolan mereka, tapi kemudian menghilang seiring dengan semakin nyenyaknya dia tidur. Berhubung Leyla tertidur, cerita tidak dapat dilanjutkan J Pokoknya, tahu-tahu sekitar jam setengah dua belas, bus berhenti di sebuah rumah makan. Saat itulah Leyla tahu kalau ternyata itu sudah pemberhentian yang kedua.

Jam dua belas malam, bus berangkat lagi. Tidur mereka tak lagi nyenyak, karena belum juga tertidur, mereka harus pindah bus! (ini yang paling tidak menyenangkan kalau naik bus). Semua bingung. Bagaimana cara membawa dua kardus yang berat itu, sementara supir bus sudah teriak-teriak menyuruh turun? Kalau mau dijabanin, bisa saja sih diladenin tuh omelan. Siapa yang takut...? But, masalahnya, kalau dijabanin, nanti ketinggalan bus pengganti. Tambah repot, kan? Akhirnya, Denny mengeluarkan tenaga ekstra guna mengangkut kardus itu. Leyla dan Nanik cuma membatin, aduh, kasihan deh kamu, Den. Tapi gimana lagi? Kita nggak bisa bantu..... Kesannya useless banget, ya?

Akhirnya... sampai juga di Pekalongan, jam setengah empat pagi. Tak lama, rombongan FLP Pekalongan datang menjemput. Aveus Har, Yossy Maylani, Nikmah Maula, N. Dien, Eko, dan... (aduh... satu lagi lupa. Kebiasaan, deh!). Yang cowok bonceng yang cowok, yang cewek bonceng yang cewek. Inilah perbedaan perempuan Jakarta dengan perempuan Pekalongan (atau daerah pada umumnya). Di Jakarta, susah sekali mendapatkan perempuan yang bisa mengendarai motor. Alasannya, angkot banyak, bus apalagi. Di Pekalongan sebaliknya. Mari kita perkenalkan Yossy Maylani, si mantan racer yang kalau mengendarai motor bisa sampai 80 Km/ Jam. Leyla yang selalu berjodoh dengannya dalam naik motor, hampir saja terbang terbawa angin dan harus berpegangan dengan Yossy, biar kalau jatuh sama-sama J. Bang Andi juga bilang, “ada yang naik motornya pelan-pelan, nggak?” Wah... nggak nyangka deh. Ternyata Bang Andi selain tidak bisa naik motor, juga tidak mau naik motor yang ngebut!

Dan begitulah. Mereka menginap di rumah Paklik Yossy yang sangat ramah dan baik hati. Rumah itu jugalah yang menjadi markas Rumah Cahaya Pekalongan. Subhanallah! Rumah itu sangat sederhana. Dengan dinding dari bambu, lantai ubin, penerangan sederhana, air harus nimba, buang air besar di kebun (perkiraan saja, sih, soalnya kami tidak pernah tahu di mana WC-nya. Kalau mau ke WC, harus menumpang di rumah saudara Yossy lainnya).

Tetapi justru kesederhanaan itulah yang membuat orang-orang betah tinggal di sana. Rumah itu memang sangat ramah dan terbuka. Setiap hari anak-anak datang membaca buku, malam hari gantian bapak-bapak yang main catur di terasnya. Dua minggu sekali, anak-anak FLP Pekalongan datang untuk berdiskusi tentang kepenulisan. Siapa saja boleh datang dan Paklik Yossy sekeluarga tidak pernah keberatan. Paklik Yossy selalu menekankan untuk menjadikan rumah itu seperti rumah sendiri. Ini bukan basa-basi. Semua orang memang tidak sungkan memasuki rumah itu, bahkan menumpang mandi, dan Subhanallah! Paklik Yossy sama sekali tidak merasa berat ketika harus menimba untuk mengisi bak mandi yang kosong. Khusus untuk menyambut utusan Rumah Cahaya, beliau memotong ayam kampung peliharaan sendiri!

Usai berbincang-bincang sejenak, jam setengah lima pagi, semua mengerjakan rutinitasnya masing-masing. Salat Subuh, mandi, dan tidur sejenak. Jam tujuh pagi, sambil menunggu Andi Birulaut dan Tarjo datang, Yossy Maylani (ketua RC Pekalongan) dan Eko (ketua FLP Pekalongan), mengajak Leyla, Denny, dan Nanik, berjalan-jalan ke pantai. Kata Paklik Yossy sih, jaraknya cuma 7 kilo, tapi setelah dijabanin... ternyata jauh juga. Naik motor lagi. Tangan Nanik sampai kram karena berpegangan di bawah motor. Dan memang, ke mana-mana kami selalu naik motor. Tentu saja itu menyenangkan. Siapa yang bilang tidak? Melihat pantai yang betapa indahnya, Nanik Susanti merenung di atas batu. Terlihat sangat dewasa. Tapi begitu hendak difoto oleh Denny, dia segera mengeluarkan senyum imutnya yang childish.

Leyla sangat senang karena Yossy dan Eko tak henti-hentinya memotretnya. Maklum, baru sekalinya itu ketemu seleb J. Yossy dan Eko agak terheran-heran menghadapi the real Leyla yang narcis abis. Kemudian melihat foto digital mereka. Lho, kok isinya foto Leyla semua, ya? Baru sadar mereka.

Jam sembilan pagi, mereka pulang ke rumah Paklik Yossy. Bang Andi menelepon Leyla, katanya sudah sampai. Minta tolong dibelikan makanan dan coffemix. Kata Yossy, sudah ada coffemix di rumah. Leyla menekankan, harus coffemix! Kalau nggak, Bang Andi pasti nggak mau. Ternyata memang coffemix, tapi tetap saja salah. Harusnya Nescafe, bukan ABC. Wah...!

Jam sepuluh pagi, serah terima bantuan dari Rumah Cahaya Pusat ke Rumah Cahaya Pekalongan. Semoga bisa menambah koleksi buku di Rumah Cahaya Pekalongan yang subhanallah, baru ada satu rak saja! Ada satu rak lagi yang masih nggangur karena belum ada satu buku pun yang nangkring di atasnya. Duh... rasanya tak sia-sia datang ke Pekalongan. Benar kata Bang Andi, keadaannya memprihatinkan. Tetapi semangat para pengelolanya, patut diacungkan jempol. Rumah Cahaya Pekalongan memang benar-benar harus ada. HARUS! Bayangkan, jangankan perpustakaan, toko buku saja sulit ditemui di Pekalongan. Jadi, wajar saja kalau anak-anak FLP Pekalongan kurang bisa meng-update buku-buku yang baru terbit.

Setelah serah-terima bantuan, kami pun membongkar isi kardus berisi buku, untuk bahan bacaan dua anak SMP yang sedang ngendon di RC Pekalongan. Sekadar informasi, dua anak SMP itu baru pertama kalinya datang ke RC. Kami bertemu mereka di pantai. Rupanya mereka sedang bolos sekolah. Eko mengajak mereka ke RC untuk diwawancarai kenapa mereka bolos sekolah. Eko memang sedang ada proyek membina anak-anak bermasalah, contohnya ya kedua anak SMP yang suka bolos sekolah itu. Kedua anak SMP itu terlihat sangat antusias membaca buku-buku di RC. Bahkan satu anak mengambil lima. Apalagi RC Pekalongan memang memperbolehkan peminjaman buku untuk dibawa pulang.

Jam setengah sebelas, acara kosong. Kedua anak SMP itu sudah pulang. Sedangkan acara ngobrol bareng anak-anak FLP Pekalongan baru diadakan jam satu siang. Apalagi anak-anak FLP Pekalongan memang belum datang. Acara kosong itu pun dimanfaatkan untuk berjalan-jalan mengelilingi Kota Pekalongan, dari monumen sampai pasar grosir batik. Leyla niatnya mau beli batik, tapi setelah mengitari pasar itu, ternyata tidak ada yang dibeli satu pun. Habis, waktunya cuma satu jam. Lumayanlah. Setidaknya sudah melihat batik Pekalongan itu seperti apa sih. Ternyata sama saja dengan yang di Jakarta. Malah harganya lebih murah di Jakarta. Mungkin karena kami wisatawan kali, ya, jadinya dimahalin.

Dari pasar grosir, jam satu siang, kami ngobrol-ngobrol dengan anak-anak FLP Pekalongan yang mulai berdatangan. Mereka banyak bertanya tentang kepenulisan dan penerbitan. Guntur, salah satunya. Pengurus RC Pekalongan ini rupanya masih terbilang awam dalam hal kepenulisan dan penerbitan. Dia bertanya, kenapa menulis cerpen itu susah banget, berapa royalti yang diterima penulis, dan kenapa cerpen dia nggak lolos antologi cerpen lucu? Dia sedih banget karena nggak lolos. Dia juga bertanya, editor itu pekerjaannya apa sih? Apakah boleh kalau naskah tidak diedit? Kenapa sih editor sukanya memotong isi cerita orang? Dll. Leyla yang kebetulan menjadi tempatnya bertanya, hanya senyum-senyum. Maksudnya, tersenyum sambil menjawab. Kalau senyum-senyum doang, tebar pesona, dong!

Di lain tempat, maksudnya, tidak jauh dari tempat Leyla dan Guntur ngobrol, Nanik Susanti juga sedang menjelaskan hal yang sama kepada anak-anak FLP Pekalongan yang berkumpul mengitarinya. Mereka terlihat antusias menyimak uraian Nanik dan berebut meminta nomor HP Nanik. Dengan malu-malu Nanik, menjawab, “nomornya sih ada, tapi hp-nya nggak ada. Sudah saya jual. Pake nomor Ela aja, ya?” hiks!

Jam empat sore, acara diskusi bersama FLP Pekalongan, usai. Selanjutnya mereka menuju ke rumah NR. Ina Huda dan Khairul Huda, pasangan penulis. Rumah mereka jauh banget. Perjalanan satu jam kurang dengan naik motor berkcepatan 80 Km/ Jam. Meskipun menegangkan (jalan yang berliuk-liuk, maklum, naik ke gunung), tetap mengasyikkan. Apalagi Mbak Ina dan Pak Khairul sangat ramah menyambut kami. Tidak menyangka, di usianya yang ke-43 (kayaknya), Mbak Ina masih terlihat muda dan segar. Mungkin karena senyum yang tak pernah hilang dari bibirnya. Orangnya juga ramai sekali, dan pintar bikin kue. Pulangnya, kami dibawakan kue buatannya yang tertinggal di bus (sayang banget... rezeki supir busnya, tuh!). Mbak Ina cerita, kalau mau menelepon atau menerima telepon, dia harus naik ke atas pohon dulu, baru dapat sinyal.

Jam setengah enam sore, kami pulang ke rumah Paklik Yossy. Semua serba buru-buru karena kami harus mengejar bus jam setengah delapan. Di Pekalongan kalau sudah di atas jam delapan, sudah tidak ada bus (katanya, lho. Nggak yakin banget, sih!). Alhamdulillah, kami berhasil mendapatkan bus, meskipun harus menempuh perjalanan jauh ke Comal (Pemalang). Sedih rasanya harus berpisah dengan anak-anak FLP dan RC Pekalongan yang penuh semangat. Kami tidak sempat menginap, meskipun sudah dipaksa-paksa. Bang Andi yang sebenarnya mau ke rumah orang tuanya di Purwokerto (kayaknya, agak lupa, nih), terpaksa ikut pulang bersama Leyla, Denny, dan Nanik. Niatnya sih mau melindungi Leyla dan Nanik, tapi di perjalanan selalu bilang, “Aduh... gara-gara Ela sama Nanik, nih....” Nanik yang kesal, bilang,” ya udah, Bang. Turun aja, deh.” Padahal itu sudah setengah perjalanan!

Keletihan membuat semua tertidur dalam perjalanan pulang.

Nanik Susanti, ternyata perjalanan ini menyenangkan. Benar-benar menghilangkan stres. Aku nggak capek sama sekali, lho. Mungkin karena udah rutin jogging tiap hari. Nggak sabar nunggu ke Bandung minggu depan (kali ini untuk acara Lingkar Pena Publishing di Fak Sastra Unpad). (Padahal sesampainya di RC Depok, dia “tewas” sampai jam delapan pagi!)

Leyla Imtichanah kirain bakal ngebetein, ternyata asyik juga. Minggu depan aku ikut ke Bandung juga deh, Mbak. Em... tapi.... (pengen belanja di Factory Outlet, tapi ada yang mau nemenin nggak ya? Kayak di Pekalongan. Trus lagi, pilih the last atau the future, ya? Soalnya minggu depan ada acara lain yang akan menentukan masa depannya. Deu....).

Andi Birulaut *Groak! Groak!* Menumpang tidur di RC Depok. Kata Eni (penjaga RC Depok), bangunnya baru sore hari, terus langsung ke Indonesia Book Fair. Heran, kok bisa ya? Padahal di sebelah, ada dua tikus mati yang baunya bikin Eni muntah-muntah dan Koko (ketua FLP Depok) ngomel-ngomel karena kebagian buang tikus.

Denny Prabowo Nggak tau kabarnya, karena pulang ke rumahnya sendiri. Jam sebelas baru nongol lagi di RC Depok dengan mata merah. “Mau ke book fair. Duh... aku ada rapat (FLP Depok), lagi!”

Yang pasti, perjalanan ini tentu sangat melelahkan. Tetapi sungguh, tidak terasa sama sekali keletihan itu. Yang ada adalah kepuasan karena bisa melihat sendiri kondisi RC Pekalongan sehingga semakin memotivasi kami untuk memberikan “lebih.”

Sebenarnya, kalau mau, kami bisa saja mengirimkan bantuan lewat pos dan transfer bank. Toh, biayanya sama saja dengan perjalanan ke Pekalongan. Tapi kami ingin melihat sendiri keadaan di sana supaya lebih yakin dan semangat. Semangat teman-teman di Pekalongan benar-benar menular kepada kami. Mereka yang berada di dalam keterbatasan saja bisa terus semangat, mengapa kami tidak?

Semoga RC Pekalongan semakin berkembang. Sekarang ini baru ada fasilitas beberapa buku yang tidak banyak dan dua rak buku. Tempat masih menumpang yang kemungkinan bisa dipindah lagi. Fasilitas lainnya, nonsense! Yah... semoga....

Terima kasih kepada teman-teman RC dan FLP Pekalongan yang sudah menyambut kami dengan sangat ramah. Maaf, kalau kami agak-agak merepotkan.

--Eko
--Yossy Maylani
--Aveus Har
--N. Dien (mau menikah nih, tanggal 19 Desember!)
--Nikmah Maula
--NR. Ina Huda
--Khairul Huda
--Karniti
--Bang Sat(ria)/ Hanafi
--Guntur
--Vi’s
--Sochibah
--dll (maaf ya kalau terlewat. Memori terbatas).
--terakhir, tentu saja, keluarga Paklik Yossy yang ramah dan baik hati.

Rabu, 13 April 2005

Meet The Writter di Rumah Cahaya

Pukul 10:15 WIB. Hadi yang harus mempersiapkan acara Meet The Writer—tanpa Hendra yang sedang pulang kampung ke Bandung—datang dengan mata sembab, sebab belum lunas kantuk karena begadang menyelesaikan tulisan sampai Subuh. Tapi tak seorang pun pengurus Rumcay Depok yang sudah hadir di tempat itu—kecuali Tami yang memang tinggal di sana. Rencananya, sebelum acara dilangsungkan, pengurus ingin mengadakan rapat, membicarakan launching Rumah Cahaya Depok yang ke 2.

“Ke mana yang lainnya?” tanya Hadi pada Tami saat tak menemukan seorang pun pengurus Rumcay selain dirinya di sana.

“Lho, emangnya Hadi belum tau kalo acara rapatnya diundur sampai jam tiga sore, selasai acara jumpa penulis?”

“Hah?!” mata Hadi yang kuyu membelalak lebar. “Kok saya gak dibilangin sih?”

Tami hanya mengangkat bahu.

Pukul 11:30 WIB. Ratna yang mengira datang terlambat tergesa masuk ke dalam Rumcay dengan wajah bersalah. Tapi manakala dia hanya menemukan Hadi dan Tami di sana, keningnya berkerut, ribuan tanda tanya menyembul dari balik jilbab putihnya.

“Rapatnya gak jadi?”

“Diundur sampe jam tiga!”

“Uh, gimana sih Mas Denny? Katanya jam sepuluh? Kalo tau begini aku datangnya jam satuan aja!”

Pukul 12:00 WIB. Saya tiba di Rumcay disambut dengan gerutu Hadi dan tatap mata kesal Ratna. Sudah ada beberapa pengunjung yang ingin menghadiri acara temu penulis, juga beberapa anak FLP Depok.

“Katanya jam sepuluh?!” Ratna keki.

“Lho, emangnya kamu gak di-SMS sama Arifani?”

Ratna menggelengkan kepala, masih menyimpan kesal di wajahnya.

“Hehehe... sori deh. Sebenarnya aku mau SMS Ratna, tapi gak ada pulsa. Tapi bukan salah aku dong? Aku kan udah minta Rifa SMS kamu...”

Suara adzan Zuhur mengumandang. Saya, Hadi, Ratno (Penguasa toko buku di Rumah Cahaya) dan beberapa teman FLP Depok pergi ke masjid di belakang Rumcay. Sedang para akhwat menunaikan salat di Rumcay.

Pukul 13:00 WIB. Adzimattinur Siregar yang menjadi pembicara datang. Sayang Leyla Imtichanah yang seharusnya juga datang sebagai pembicara harus melewatkan kesempatan bertatap muka dengan penggemar-penggemarnya.

Dan acara yang sedianya dilaksanakan tepat pukul satu siang harus diundur sampai setengah dua, karena belum banyak pengunjung yang datang ke Rumcay. Sepertinya anak-anak remaja di kota Depok, lebih memilih menghadiri konsernya Seurius di lapangan parkir Goro, yang diselenggarakan bersamaan waktunya dengan acara jumpa penulis. Hmmm... kayaknya kita punya PR buat menarik minat para remaja, khususnya anak-anak sekolah di kota Depok, untuk lebih mencintai membaca dan menulis!

Namun terlepas dari itu semua, acara jumpa penulis yang dipandu oleh saya sendiri, lumayan sukses. Banyak juga teman-teman dari FLP Depok yang datang untuk menimba pengalaman dari Adzimattinur Siregar.

Banyak Hal yang dibagi oleh penulis yang sering dipanggil Butet itu, yang menerbitkan bukunya pertama kali saat dia masih duduk di bangku SMP. Dari bagaimana dia mendapatkan ide cerita, sampai mengolahnya menjadi sebuah novel serial. Ternyata, seorang Adzimattinur pernah merasa minder karena bermasalah dengan huruh R (alias cadel) dan nilai F dalam pelajaran Bahasa Indonesia. Tapi dengan menulis, dia berhasil menumbuhkan kepercayaan diri. Boleh dibilang, menulis menjadi semacam terapi baginya untuk lebih percaya pada kemampuannya sendiri. Di samping sering menerima pujian dari pembaca buku-bukunya, ternyata, sebagai penulis yang sudah cukup dikenal di kalangan pembaca novel-novel islami, dia sering juga mendapatkan semacam kritikan dari pembaca yang lebih seperti mencemooh karyanya. Tapi Adzimattinur malah merasa berterima kasih dengan orang-orang yang mengkritik atau hanya sekedar mencemooh karyanya, karena setidaknya, itu merupakan pertanda mereka memperhatikannya. Dan peduli dengannya. Wah, bijak banget ya ABG yang satu ini? Di akhir acara, Adzimattinur melemparkan pertanyaan konyol kepada pengunjung yang ingin mendapatkan bukunya. Begini pertanyaannya, “Sebutkan letak bangku tempat saya duduk di sekolah?” Pertaanyaan Adzimattinur itu segera disambut tawa oleh para pengunjung. Siapa juga yang tahu tempat duduknya di sekolah?

Alhamdulillah, meski jauh dari sempurna, acara Meet The Writer berjalan dengan cukup lancar, sampai acara ditutup pada pukul tiga. Tapi kami memang masih memiliki pekerjaan rumah untuk membangkitkan minat baca, tidak saja di kalangan remaja, tapi juga anak-anak, dan bila perlu orang-orang dewasa di kota Depok. Semoga saja kami mampu melaksanakannya, sehingga di masa yang akan datang, akan banyak penulis-penulis lahir dari Rumah Cahaya Depok. Mohon doanyaJ

Denny Prabowo
Ketua Divisi Rumah Cahaya FLP

Aku, Buku, dan Cahaya Itu

Empat dus karton menduduki salah satu sudut Rumah Cahaya. Aku ingin tahu isinya, aku membukanya. Dan aku menemukan berlembar-lembar harta berharga di sana.

Ayah-ibuku bukan orang mampu, mereka hanyalah PNS dengan penghasilan yang disunat aneka potongan ini-itu. Jadi aku tak tega minta benda-benda mahal pada mereka. Tapi ayah ibu tahu harap yang tersirat dari sorot mataku. Jadi mereka sering membelikan aku majalah dan buku. Meskipun bekas tidak mengapa. Meskipun buram yang penting bisa terbaca.
Agar Ayah ibu tak habis gajinya cuma untuk beli buku, aku rajin meminjam bacaan pada teman. Sesekali aku pergi ke perpustakaan umum dan tempat penyewaan buku. Meskipun jauh tidak masalah. Asalkan hasrat bacaku terpuaskan. Jadilah aku sering menempuh jalan berkilo-
kilo jalan kaki untuk meminjam buku.

Saat beranjak dewasa dan sudah punya penghasilan sendiri, buku tetap menjadi barang mahal bagiku. Terlebih jika aku beli, baca, selesai. Buku selanjutnya teronggok berdebu di lemari. Uang yang berubah jadi buku terasa kecil manfaatnya karena hanya aku yang menikmatinya.
Bukankah akan lebih bermanfaat jika banyak orang menyerap maknanya.

Menyumbangkan buku tersebut di perpustakaan adalah solusi. Namun aku suka jengkel. Petugas dan pengunjung perpustakaan sering semena-mena memperlakukan buku. Halaman buku dilipat, sampul buku ditekuk, bahkan dijadikan bantal. Andai buku bisa protes pasti mereka akan berteriak "Jangan sia-siakan diriku!!!"

Sekarang aku menjadi pengelola sebuah perpustakaan. Rumah Cahaya namanya. Di sana banyak anak-anak seperti aku dulu. Tak mampu tapi haus ilmu, tak punya tapi banyak tanya, tak berharta tapi berharap bisa melihat keajaiban dunia kata-kata. Setiap hari mereka datang
dan bertanya dengan sorot matanya "buku apa lagi yang bisa kami baca hari ini?"
Sayangnya buku-buku di Rumah Cahaya minim sekali. Tak banyak dermawan yang rutin setiap bulan menyumbang buku. Mungkin mereka berpikiran seperti aku, bahwa buku akan disia-siakan bila berada di sini. Namun aku dan teman-teman Forum Lingkar Pena sudah berkomitmen untuk menjaga buku-buku itu agar tetap bercahaya, menerangi
sekitarnya dengan hikmah.

Suatu hari aku menemukan empas dus karton menduduki salah satu sudut Rumah Cahaya. Aku ingin tahu isinya, aku membukanya. Dan aku menemukan berlembar-lembar harta berharga di sana. "Subhanallah!!!" teriakku. Aku terbelalak. Begitu juga dengan teman-teman yang lain.
Mereka jadi semangat membaca, tergerak lagi untuk menulis. Sumbangan empat dus buku itu sangat berarti bagi kami, orang yang tak mampu membeli banyak buku.

Empat dus buku itu adalah sumbangan dari PT. Inti Karya Persada Teknik dalam rangka ulang tahunnya ke-24. Sungguh sebuah tanda cinta yang sangat bermanfaat untuk sesama. Mereka rela mengeluarkan uang berjuta-juta untuk membuat Rumah Cahaya semakin bercahaya. Sumbangan buku-buku tersebut adalah pelita, penggerak langkah sekaligur mengobar semangat teman-teman untuk berkarya.

Banyak cara manusia memperingati hari jadinya. Kebanyakan dengan cara hura-hura. Membuat pesta meriah dengan tarian dan lagu-lagu. Mengenyangkan perut-perut buncit sementara banyak mulut menganga mohon suapan di sekitarnya. Alhamdulillah IKPT memilih cara yang
berbeda. Uang tidak masuk ke kantong artis penjual suara dan penari-penari pinggul, tapi menjelma jadi buku.

Duduk di Rumah Cahaya, melihat anak-anak yang membaca buku-buku mengingatkanku pada masa lalu. Teringat jauhnya jalan yang harus kutempuh untuk meminjam buku. Teringat sorot mata menghina karena si lusuh berusaha masuk di komplek mewah hanya untuk membaca
buku. Sungguh beruntung anak-anak di Rumah Cahaya ini tidak mengalami nasib seperti aku.

Aku hanya bisa berharap, semakin banyak orang-orang yang tersentuh, terketuk hatinya lalu mengerakkan raga untuk bertindak. Menyisihkan sebagin rejeki untuk membantu sesama. Menyalakan cahaya di Rumah-Rumah kumuh. Dan cahaya-cahaya itu akan menjadi bintang
penerang di alam kubur, pintu masuk menuju surga. Doa selalu terucap dari dhuafa, karena masih ada yang peduli pada mereka.

Terima Kasih, IKPT
Koko Nata, Ketua FLP Cabang Depok
/

Mitra Kami

Photobucket Photobucket Photobucket
 

Followers

Photobucket

Rumah Cahaya FLP Copyright © 2009 BeMagazine Blogger Template is Designed by Blogger Template
In Collaboration with fifa