Tampilkan postingan dengan label Wacana. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Wacana. Tampilkan semua postingan

Rabu, 11 Agustus 2010

Buku dan Perpustakaan

: Elemen Penting Pencapaian Reading Culture dalam Masyarakat Indonesia

Oleh Hafi Zha

Kebutuhan manusia akan informasi tidak bisa lepas dari posisi manusia sebagai makhluk sosial. Hubungan dengan manusia-manusia lain memaksa manusia untuk selalu mendapatkan informasi demi kelangsungan hidupnya. Berbagai jenis informasi tersedia dalam kehidupan manusia, salah satunya yang paling populer adalah buku. Buku telah hadir ke ranah sejarah kehidupan umat manusia sejak manusia mulai mengenal tulisan. Mau tidak mau, kebiasaan membaca terbentuk dan minat terhadap buku meningkat.

Pencarian manusia akan informasi menyebabkan manusia memerlukan berbagai pusat informasi yang nantinya akan memberikan berbagai informasi yang dibutuhkan. Perpustakaan merupakan salah satunya. Namun melihat kondisi perpustakaan di negeri ini, timbul pertanyaan: masih layakkah perpustakaan disebut sebagai pusat informasi ataukah diposisikan dalam kondisi yang terbuang, dianggap hanya sebagai gudang penyimpan buku? Ironis memang. Tetapi inilah realita perpustakaan di negeri ini. Salah satu fakta yang bisa kita tengok dalam masyarakat adalah kondisi Perustakaan Kediri yang memiliki dinding kusam, koleksi yang minim, serta kegiatan perbukuan yang sepi akibat miskinnya inovasi para penjaganya (Jawa Pos, 9/7/2006). Kita tidak bisa menutup mata begitu saja terhadap kondisi perpustakaan—sebagai tempat alternatif mendapatkan informasi —tersebut maupun perpustakaan di daerah-daerah lainnya, bahkan perpustakaan nasional.

Kondisi Masyarakat Kini
Sebuah negara yang sedang berkembang seperti negeri kita ini memerlukan berbagai sumber informasi dan ilmu pengetahuan agar bisa lebih maju. Namun kenyataannya, kesadaran masyarakat Indonesia akan informasi masih sangat kurang. Buku sebagai salah satu sumber informasi yang penting menjadi terabaikan oleh masyarakat. Begitu juga halnya dengan perpustakaan. Harusnya kita kembali pada definisi perpustakaan itu sendiri. Pengertian umum tentang perpustakaan dapat diacu pada Kamus Besar Bahasa Indonesia, 2002. Dalam kamus ini tertulis:

perpustakaan: 1) tempat, gedung, ruang yang disediakan untuk pemeliharaan dan pendayagunaan koleksi buku, dsb. 2) koleksi buku, majalah dan bahan kepustakaan lainnya yang disimpan untuk dibaca, dipelajari, dibicarakan.

Sulistyo-Basuki mengemukakan bahwa perpustakaan adalah sebuah ruangan, bagian sebuah ruangan, ataupun gedung itu sendiri yang digunakan untuk menyimpan buku dan terbitan lainnya yang biasanya disimpan menurut tata susunan tertentu untuk digunakan pembaca, bukan untuk dijual. Sementara itu, Dr. Sukarman, salah satu pakar kepustakawanan di Indonesia mendefinisikan perpustakaan sebagai:

Institusi / lembaga pengelola koleksi karya tulis, cetak dan atau rekam sebagai sumber informasi ilmu pengetahuan, teknologi dan seni yang diatur dan ditata menurut sistem yang baku dan didayagunakan untuk keperluan pendidikan, penelitian, informasi, dan rekreasi bagi masyarakat.

Perpustakaan sudah seharusnyalah digunakan sebagaimana fungsinya sebagai penyedia informasi. Peningkatan kinerja perpustakaan harus diimbangi dengan peningkatan minat baca masyarakat. Tidak akan ada artinya jika kualitas perpustakaan terus ditingkatkan, sedang minat baca masyarakat tetap berada pada level yang stagnan.

Kondisi masyarakat Indonesia tampaknya menunjukkan kualitas minat baca yang masih kurang, disebabkan oleh berbagai faktor. Budaya bangsa ini memang sejak dulu adalah budaya lisan, bukan budaya untuk membaca. Kultur masyarakat yang masih tradisional juga menyebabkan minat baca yang kurang. Bangsa Indonesia merupakan bangsa yang terbiasa dengan budaya lisan. Lebih parah lagi, ketika bangsa ini mulai menghadapi modernisasi, di mana kita dihadapkan pada era telekomunikasi global. Kita berhadapan dengan era teknologi komunikasi yang lebih praktis, melalui radio, televisi bahkan internet. Jadi kita bisa bayangkan betapa ”hebatnya” bangsa ini melakukan sebuah lompatan besar dalam sejarah perkembangan. Bangsa ini tidak sempat mencicipi era membaca atau budaya baca tapi melompat dari budaya lisan langsung menuju era teknologi komunikasi global. Masyarakat lebih senang duduk di depan televisi berjam-jam daripada menyempatkan diri untuk ”mampir” ke perpustakaan atau paling tidak menyempatkan diri untuk membaca buku apa saja, kapan saja, dan di mana saja.

Kenyataan pahit harus diterima bangsa Indonesia dalam kaitannya pemberantasan buta huruf demi meningkatkan minat baca. Meskipun persentase penduduk buta aksara setiap tahun cenderung menurun, namun menurut data tahun 2002, diketahui masih ada 18,7 juta penduduk Indonesia usia 10 tahun ke atas yang buta huruf. Hal ini masih diperparah dengan kenyataan, bahwa setiap tahun ada 250-300 ribu siswa kelas 1, 2, dan 3 SD yang putus sekolah (Republika, 24 Januari 2003).

Sementara itu, pada tahun 2000 organisasi International Educational Achievement (IEA) menempatkan kemampuan membaca siswa SD Indonesia di urutan ke-38 dari 39 negara atau terendah di antara negara-negara ASEAN. Dengan kondisi seperti itu, maka tak heran bila kualitas pendidikan di Indonesia juga buruk. Dalam hal pendidikan, survei The Political and Economic Risk Country (PERC), sebuah lembaga konsultan di Singapura, pada akhir 2001, menempatkan Indonesia di urutan ke-12 dari 12 negara di Asia yang diteliti (Republika, 24 Januari 2003).

Permasalahan minat baca tidak bisa lepas dari permasalahan budaya lisan Indonesia dan juga permasalahan klasik yaitu masalah ekonomi. Hal ini menyebabkan rendahnya daya serap atau daya beli masyarakat Indonesia terhadap buku-buku yang diterbitkan penerbit dalam negeri apalagi penerbit luar negeri. Penyerapan buku-buku yang diterbitkan hanya terbatas pada kalangan tertentu saja, seperti kalangan birokrat, akademisi, maupun mahasiswa—yang mempunyai high purchasing power.

Perpustakaan seharusnya menjadi alternatif terbaik di saat daya beli masyarakat yang rendah terhadap buku. Cost yang diperlukan untuk hal ini juga sangat murah, asalkan bersedia meluangkan waktu untuk pergi ke perpustakaan. Perpustakaan merupakan sarana yang baik dalam transfer gagasan, pikiran, dan berbagai hal positif lainnya yang nantinya akan bisa digunakan untuk memberdayakan masyarakat sebagai suatu lembaga yang utuh dan integral.


Keberadaan Perpustakaan dalam Pencapaian Reading Culture
Hadirnya perpustakaan di tengah masyarakat sangatlah penting. Misi utama perpustakaan adalah menyediakan layanan pendayagunaan koleksi bagi pengguna. Terlaksananya misi itu amat tergantung pada kondisi berkembangnya minat dan kegemaran membaca di kalangan masyarakat. Tapi sebaliknya, minat dan kegemaran membaca juga hanya dapat berkembang apabila ada fasilitas berupa tersedianya bahan bacaan yang cukup memadai dan menarik.

Reading culture dapat dicapai dengan hadirnya perpustakaan di tengah lingkungan kehidupan masyarakat—yang sebenarnya akan menuntun mereka untuk mulai membangun kemampuan membaca (reading ability), dan selanjutnya membina kebiasaan membaca (reading habit)—yang pada akhirnya akan menciptakan masyarakat membaca (reading socity) serta masyarakat belajar (learning society). Anak-anak yang dididik untuk gemar membaca akan memiliki kemampuan afektif dan kognitif yang lebih baik daripada anak-anak yang tidak suka membaca. Hal ini disimpulkan oleh Marry Leonhardt, dalam bukunya yang berjudul 99 Cara Menjadikan Anak Anda Keranjingan Membaca, yaitu 1) anak yang membaca mampu menulis, berbicara, dan memahami gagasan lebih baik daripada anak yang tidak membaca; (2) anak yang membaca mempunyai wawasan yang lebih luas, (3) anak yang membaca tidak mengalami krisis kepribadian terhadap kemampuan akademis, (4) anak yang membaca mempunyai kesempatan dan kemungkinan (opportunity and probability) yang lebih luas dalam memahami kehidupan, dan (5) anak yang membaca lebih kreatif dan argumentatif.

Korelasi antara kegemaran membaca dengan kebutuhan masyarakat akan buku di perpustakaan pernah dijelaskan dengan sangat baik oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Prof. Dr. Ing. Wardiman Djojonegoro, sewaktu memberi pengarahan pada Kongres VII Ikatan Pustakawan Indonesia dan Seminar Ilmiah Nasional di Jakarta, 20-23 November 1995. Menurut Menteri, pengelolaan buku sebagai salah satu sumber belajar utama dalam proses pendidikan memiliki peranan yang menentukan dalam upaya peningkatan mutu sumber daya manusia. Sedang upaya peningkatan mutu sumber daya manusia dalam era penduniaan (globalisasi) sangat erat kaitannya dengan upaya penumbuhkembangan kegemaran membaca yang diharapkan dapat mewujudkan suatu masyarakat yang gemar belajar (learning society). Apabila kegemaran membaca masyarakat telah tumbuh dan terbentuk, maka kebutuhan akan buku menjadi meningkat pula, dan perpustakaan akan berfungsi sebagai wahana pencerdasan kehidupan bangsa.

Sebenarnya sejak tahun 1995 secara nasional telah diciptakan kondisi yang mendukung pengembangan minat membaca, yakni dengan dicanangkannya Hari Kunjung Perpustakaan dan Bulan Gemar Membaca Nasional, tanggal 14 September 1995, oleh Soeharto—yang saat itu masih sebagai Presiden Republik Indonesia. Selanjutnya, dicanangkan pula hari Gerakan Membaca Nasional pada setiap tanggal 12 Nopember oleh mantan Presiden negara ini, Megawati Soekarnoputri sejak tahun 2003. Pencanangan kedua hal tersebut selalu dikaitkan dengan acara/kegiatan perpustakaan, sehingga sesungguhnya ada dasar yang kuat bagi perpustakaan untuk mengembangkan terus program pembinaan minat baca.

Upaya Peningkatan Minat Baca, Daya Beli Buku, dan Kualitas Perpustakaan
Minat baca masyarakat yang rendah, daya beli masyarakat terhadap buku yang juga rendah, dan kondisi perpustakaan yang menyedihkan seakan seperti lingkaran setan yang saling berhubungan dan merugikan siapapun yang berada di dalamnya—merupakan salah satu faktor sulit terwujudnya reading culture di negeri ini. Oleh karena itu, diperlukan upaya-upaya untuk memperbaiki ketiga hal di atas.

Rendahnya minat baca nasional disebabkan oleh faktor-faktor yang berkaitan erat dengan rendahnya daya beli buku dan kualitas perpustakaan yang masih di bawah rata-rata. Faktor-faktor itu antara lain rendahnya kemampuan masyarakat untuk membeli buku karena mahalnya harga buku, kurang tersedianya buku-buku terbitan nasional yang bermutu, dan belum dimasukkannya kegiatan membaca dalam kurikulum pendidikan nasional, serta kurang tersedianya perpustakaan yang menyediakan bahan bacaan yang lengkap dan relevan di tengah masyarakat. Kontribusi berbagai pihak dalam meningkatkan minat baca mutlak diperlukan. Beberapa hal yang dapat dilakukan dalam meningkatkan minat baca oleh berbagai pihak dengan berbagai usaha yaitu sebagai berikut:

  1. Melakukan berbagai penyuluhan tentang pentingnya membaca kepada masyarakat. Dapat dilaksanakan oleh pemerintah, LSM (Lembaga Swadaya Masyarakat) dengan membentuk kelompok membaca atau rumah baca, iklan layanan masyarakat di berbagai media baik cetak maupun elektronik yang dapat meningkatkan semangat masyarakat untuk gemar membaca.
  2. Menumbuhkan minat baca kepada anak sejak usia dini. Hal ini dapat dilakukan oleh para orang tua dengan menyediakan berbagai buku-buku ringan, yang menarik perhatian anak-anak. Selain itu, juga dengan mengurangi ketergantungan anak pada media-media yang dapat menghambat proses pembentukan minat baca pada anak seperti ketergantungan pada televisi.
  3. Mengubah kebiasaan masyarakat yang dulunya terbiasa dengan budaya lisan, menjadi budaya tulis atau baca. Membiasakan masyarakat untuk menyampaikan pendapat dan pikiran tidak hanya melalui lisan tetapi juga dengan tulisan. Dari tulisan-tulisan ini masyarakat akan terbiasa untuk membaca pendapat atau pikiran orang lain melalui tulisan. Dengan usaha ini, diusahakan minat baca akan terus meningkat seiring dengan berkembangnya pikiran masyarakat.
  4. Peran serta penerbit buku dalam meningkatkan minat baca dapat dilakukan dengan pengemasan buku yang menarik terutama pada segmen anak-anak.
  5. Media massa, baik cetak maupun elektronik, tidak hanya menyajikan iklan layanan masyarakat tentang pentingnya membaca, tapi juga benar-benar melakukan langkah nyata dengan membuat sebuah rubrik tertentu yang membahas tentang perbukuan atau resensi buku (dapat dilakukan oleh media cetak) dan bagi media elektronik dengan cara membuat program acara menarik yang menyajikan promosi mengenai buku-buku tertentu. Program promosi membaca ini dapat dilakukan bekerjasama dengan pihak penerbit buku dan kelompok baca.
  6. Pelaksanaan metode Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) di lingkungan sekolah diarahkan pada pencarian secara mandiri oleh siswa berkaitan dengan tugas-tugas tertentu melalui studi pustaka atau membaca buku. Hal ini tidak bisa lepas dari tujan KBK yaitu menerapkan proses kemandirian dalam pembelajaran siswa. Kemandirian dalam sistem KBK inilah yang harusnya menjadi pemacu minat baca siswa, sehingga siswa tidak hanya tergantung pada penjelasan guru yang hanya mengarah pada budaya lisan (mendengar) tapi beralih pada kesadaran aktif siswa untuk membaca.

Jika tadi telah dijelaskan langkah-langkah proaktif dalam usaha meningkatkan minat baca, maka selanjutnya adalah usaha meningkatkan daya beli masyarakat terhadap buku. Diperlukan usaha-usaha dari berbagai kalangan dalam meningkatkan daya serap masyarakat terhadap buku yaitu sebagai berikut.
  1. Pengadaan buku-buku murah namun bermutu dengan harga yang relatif terjangkau oleh semua kalangan, utamanya kalangan masyarakat bawah dan menengah. Bisa dilakukan dengan bazaar murah dan pameran buku oleh penerbit, toko buku, atau bahkan perpustakaan sekalipun.
  2. Mengusahakan ongkos produksi yang murah untuk buku sehingga harga jual buku bisa ditekan, namun tetap memberikan keuntungan atau profit.
  3. Peraturan perizinan penerbitan yang dipermudah oleh pemerintah, namun tetap mengindahkan kaidah-kaidah dan norma-norma masyarakat, sehingga dengan banyaknya penerbit, berarti banyak buku yang diterbitkan dan berarti juga harga buku akan relatif lebih murah dan terjangkau semua kalangan utamanya kalangan masyarakat bawah dan menengah.
  4. Untuk menyiasati lemahnya daya beli buku masyarakat, pemerintah harus melengkapi prasarana dan koleksi buku di perpustakaan yang telah ada. Di samping itu, untuk pemerataan dan akses yang lebih luas, perpustakaan umum baru perlu ditambah, terutama di daerah terpencil. Rasio jumlah buku dan perpustakaan dengan jumlah penduduk di Indonesia sangat jauh sekali. Idealnya, setiap kecamatan bahkan kelurahan atau desa memiliki perpustakaan umum dengan koleksi buku yang memadai dan dikelola secara profesional. (Pikiran Rakyat, 26 Maret 2005)
  5. Usaha yang tidak kalah pentingnya adalah peningkatan pendapatan dan kesejahteraan masyarakat. Erat sekali kaitannya dengan pemenuhan kebutuhan oleh masyarakat, dimana masyarakat sangat mengutamakan pemenuhan kebutuhan primer terlebih dulu. Kebutuhan akan buku dianggap sebagian besar masyarakat sebagai kebutuhan sekunder bahkan sebagai kebutuhan tersier. Jadi, yang pertama dilakukan oleh negara (pemerintah) adalah peningkatan kesejahteraan, sehingga bila kesejahteraan telah terpenuhi, masyarakat akan mulai berpikir untuk memenuhi kebutuhannya akan buku, karena masyarakat akan sadar betapa pentingnya informasi.
Di saat peningkatan daya beli masyarakat terhadap buku masih terus berjalan, perpustakaan bisa menjadi pilihan alternatif bagi usaha mengembangkan budaya baca. Namun kenyataannya perpustakaan banyak yang tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Bagaimana hal tersebut bisa diatasi, berikut akan dipaparkan metodenya satu per satu.
  1. Pemberdayaan perpustakaan sebagai pusat informasi dapat dilakukan dengann peningkatan fasilitas dan sarana perpustakaan. Tentu saja dengan pemanfaatan yang optimal dan perlu dilakukan pengenalan kepada masyarakat, karena tidak akan ada artinya jika fasilitas lengkap namun hanya dibiarkan saja tanpa ada yang pemanfaatan yang optimal.
  2. Peningkatan kualitas pelayanan perpustakaan terhadap masyarakat akan mempermudah masyarakat dalam pencarian informasi. Perpustakaan tidak bekerja secara pasif, tetapi secara aktif memberikan pelayanan kepada masyarakat, dengan mencari tahu atau menanyakan buku apa yang dibutuhkan. Jadwal kunjungan pun perlu ditinjau ulang, tutupnya perpustakaan setidaknya mengikuti jadwal belajar masyarakat bukannya jadwal kantor pegawai negeri—sebagian besar terjadi akibat dari pengelola perpustakaan adalah para pegawai negeri.
  3. Pengelolaan perpustakaan secara profesional oleh pustakawan yang handal dengan cara merekrut sarjana-sarjana perpustakaan. Kenyataannya saat ini adalah perpustakaan dikelola oleh orang-orang yang kurang kompeten dalam perpustakaan. Dengan hanya bermodal kursus, mengikuti lokakarya atau seminar kepustakawanan, mereka dengan mudah mendapatkan predikat ”pustakawan”. Perlu ada penanganan khusus oleh orang-orang yang ahli dalam bidang perpustakaan yang akan memberikan sentuhan baru bagi perpustakaan—perpustakaan akan dikelola dengan naluri seorang pustakawan yang betul-betul mencintai buku dalam hidupnya.
  4. Mengubah pandangan masyarakat terhadap perpustakaan. Jika selama ini perpustakaan dianggap sebagai ruangan yang penuh dengan buku, harus sepi, sunyi dan harus tenang, maka tugas pustakawanlah untuk mengubah image yang terlanjur melekat pada perpustakaan. Menjadikan perpustakaan seakan-akan sebagai obyek wisata keluarga adalah salah satu pilihan. Dengan merubah suasana dan interior menjadi lebih akrab dan lebih santai dengan berbagai lukisan ceria di dinding merupakan sebuah kemajuan dalam menciptakan suasana perpustakaan yang bersahabat dan ceria.

Rabu, 31 Maret 2010

Cahaya Itu Bernama Rumah Baca









Oleh Dhinny el Fazila
Ketua Dept. Dokuminfo Rumah Cahaya FLP

Hari ini, kapitalisme seperti telah mencengkeram dunia. Bukan hanya di kota-kota besar, tapi juga di kota-kota kecil. Bukan hanya dalam bidang ekonomi, bahkan hingga ideologi. Tak perlu jauh-jauh mencari bukti. Di sebuah kota suburban, di pinggir kota Jakarta, sebuah kota bernama Depok telah memiliki satu mall, satu plaza, satu town square, satu ITC, Carrefour, yang akan disusul satu square lagi. Itu baru di jalur utama di sebuah jalan bernama Margonda. Belum lagi pasar-pasar yang tersebar yang tak terhitung jumlahnya.

Bagaimana dengan tata ruang kota? Wassalam. Yang penting semua senang, semua “menang”. Proyek lancar, uang mengalir. Sudah tak jadi urusan apakah di daerah itu layak dibangun sebuah bangunan atau tidak, apakah harga tanah yang diberikan pada penduduk setempat yang tergusur layak atau tidak, atau apakah pusat perbelanjaan tersebut benar-benar dibutuhkan masyarakat atau tidak. Atau jangan-jangan malah tidak bermanfaat sama sekali bagi masyarakat sekitar bahkan memberikan banyak dampak negatif. Tapi sekali lagi, inilah wajah ekonomi kita hari ini. Benar-benar tak peduli dampak dari apa yang dibuatnya, yang penting meraup untung sebanyak-banyaknya.

Tak bisa dipungkiri, dampak negatif jelas banyak. Apalagi yang bisa dihasilkan, dari mall-mall, plaza-plaza, dan town square-town square yang berjejer itu selain dari generasi muda yang semakin hari semakin konsumtif. Hedonisme jadi gaya sehari-hari remaja masa kini. Sepertinya dari ujung rambut hingga ujung kuku kaki tak boleh lepas dari balutan asesoris dan make up. Kalau mau trendi, ya harus punya modal. Siswa pintar jadi tidak lebih menonjol daripada siswa modis. Ajang-ajang pemilihan supermodel yang katanya tetap memerlukan “brain” pun tetap saja menjadikan penampilan sebagai penilaian utama. Jadi, benarkah cantik lebih penting daripada pintar?

Rasanya tidak. Mau dibawa ke mana bangsa ini kalau semua generasi mudanya hanya memikirkan tetek bengek penampilan? Kalau presiden dipilih hanya karena dia ganteng, mau jadi apa negara ini? Sudah saatnya kita mengembalikan generasi muda kita, pewaris peradaban ini, kepada kualitas yang sesungguhnya. Kualitas iman, kualitas pemikiran, kualitas akhlak dan hal-hal penting lainnya selain sekedar fisik belaka. Dan untuk menumbuhkan semua itu, rasanya ada banyak hal yang harus kita tanamkan pada rekan-rekan kita, adik-adik kita, dan orang-orang tua kita. Salah satunya adalah menumbuhkan kembali minat baca yang kian hari kian pudar. Wahyu pertama yang diturunkan kepada Rasulullah berbunyi “Iqra”, yang berarti “bacalah” Bahkan perintah pertama yang diturunkan Allah kepada RasulNya adalah membaca. Karena membaca adalah langkah awal kita untuk berbuat sesuatu. Bagaimana kita akan memberi sesuatu kalau kita tidak tahu sesuatu, dan bagaimana kita akan tahu sesuatu kalau kita tidak membaca.

Sekarang masalahnya, bagaimana menumbuhkan kembali minat baca yang telah lama terkubur itu. Sekolah sebagai lembaga pendidikan yang semestinya memiliki fungsi itu, rasanya saat ini belum mampu untuk menangani lemahnya minat baca para siswa. Lihat saja, perpustakaan sekolah sangat jarang dikunjungi. Kalaupun ada yang datang, perlu dilihat lagi, buku apa yang dibacanya. Moga-moga memang benar-benar buku yang layak dibaca. Tapi kebanyakan siswa-siswa memilih komik untuk di baca di perpustakaan. Tak salah sebenarnya kalau mereka memilih komik untuk dibaca, karena bagi mereka hanya itu yang menarik. Masalahnya adalah bagaimana agar buku-buku yang mendidik itu juga menarik untuk mereka baca.

Saat ini telah banyak pihak yang mencoba melakukan hal tersebut. Mencoba mengembalikan minat baca anak-anak dan remaja. Mencoba mendukung fungsi sekolah untuk mendidik anak-anak dan remaja. Mereka mendirikan rumah-rumah dan taman-taman bacaan bagi anak-anak. Mencoba membuat program-program yang menarik namun tetap mendidik untuk merebut perhatian anak-anak dan remaja. Berbagai acara digelar, mulai dari dongeng, pelatihan menulis, diskusi tentang buku bacaan dan lain-lain. Sebut saja perpustakaan Rumah Dunia yang dimotori penulis ternama Gola Gong, perpustakaan Rumah Cahaya yang didirikan sebuah organisasi pengkaderan penulis Forum Lingkar Pena yang dimotori Helvy Tiana Rosa dkk, 1001 Buku, dan banyak lagi lainnya. Sayangnya, gaung acara-acara tersebut masih sangat minim dan kurang terdengar.

Sebenarnya ini merupakan langkah awal yang bagus. Tinggal bagaimana kita mengemasnya. Untuk itu diperlukan program kerja yang matang dan kepengelolaan yang profesional. Seperti menentukan target awal rumah baca tersebut, membuat program-program yang efektif dan menarik bagi target pengunjung, dan membentuk tim pengelola yang profesional. Apalagi jika bisa menjadikan rumah baca sebagai “tempat nongkrong” anak-anak sekolah, menggantikan posisi mall dan plaza. Dengan begitu rumah baca bisa menjadi salah satu solusi untuk mengembalikan minat baca anak-anak dan remaja. Seperti cahaya di tengah gelapnya dunia intelektualitas remaja. Ya, cahaya itu bernama rumah baca.

***


Eksploitasi Remaja oleh Media Televisi

Oleh: Dhinny el Fazila
Katua Departemen Dokuminfo Rumah Cahaya FLP

Media massa khususnya televisi, merupakan media massa yang memiliki pengaruh sangat besar bagi sebagian besar masyarakat Indonesi. Ajang-ajang pencarian bakat yang dilakukan oleh banyak stasiun televisi, meski banyak diantaranya yang meniru program luar negeri, namun terlihat sangat diminati oleh para remaja Indonesia. Hal ini dapat kita mengerti mengingat banyaknya remaja yang ingin ”kaya dan terkenal”, apalagi dengan cara cepat seperti itu.

Namun ternyata, dibalik kegembiraan remaja dengan adanya ajang-ajang pencarian bakat yang diselenggarakan oleh stasiun televisi tersebut, ternyata terdapat unsur eksploitasi remaja oleh media. Remaja sebagai objek ajang tersebut, ternyata telah dieksploitasi dalam bentuk-bentuk yang tidak disadari. Salah satu bentuknya adalah bahwa televisi ”menjual” remaja ke pengiklan untuk mendapatkan pemasukan iklan yang berlipat. Ini sepertinya merupakan tambang emas luar biasa bagi pengelola stasiun televisi.

Ajang pencarian bakat seperti ini, sesungguhnya merupakan proses selebritisasi yang sengaja dibuat dalam budaya selebritis media massa Indonesia. Budaya selebritis sesungguhnya telah ada beberapa puluh tahun lalu. Berawal dari teater dan film, muncullah aktor-aktor film yang awalnya kurang diperhatikan secara personal, namun akhirnya dibuat menjadi selebritas dengan diperkenalkannya aktor tersebut secara personal melalui media massa sehingga jadilah aktor tersebut sebagai apa yang disebut selebritas. Proses membuat seseorang menjadi selebritas disebut selebritisasi.

Saat ini proses selebritisasi telah dianggap sebagai sesuatu yang menguntungkan bagi pengelola media massa khususnya televisi. Masyarakat Indonesia secara umum sangat suka mengetahui apa-apa yang berhubungan dengan kehidupan orang terkenal. Maka kemudian bermunculanlah artis-artis baru yang kehidupannya senantiasa dipublikasikan kehadapan publik melalui tayangan infotainment.

Maraknya tayangan infotainment yang kebanyakan penontonnya adalah ibu-ibu dan remaja putri, menyebabkan banyaknya remaja yang kemudian bercita-cita menjadi artis. Belum lagi bombardir tayangan MTV untuk remaja, sinetron yang menggambarkan kemewahan, semuanya kebanyakan ditonton oleh para remaja. Tak heran jika kemudian banyak remaja yang terobsesi ingin kaya dan terkenal.

Ajang-ajang pencarian bakat yang dipelopori oleh Akademi Fantasi Indosiar (AFI) dengan sangat sukses , membuat stasiun televisi lain seolah berlomba untuk membuat acara sejenis untuk memenuhi obsesi remaja tersebut. AFI, dulu, dan Mamamia, sekarang, keduanya benar-benar telah membuat rating Indosiar Visual Mandiri (IVM) naik sangat drastis. Sukses mereka kemudian disusul oleh stasiun-stasiun televisi lainnya.

Sebagian besar ajang-ajang tersebut ditujukan untuk para remaja. Ini wajar, sebab tidak hanya televisi yang menjadikan remaja sebagai target pasarnya. Hampir kebanyakan produsen menganggap kelompok usia remaja adalah salah satu pasar yang potensial. Alasannya antara lain karena pola konsumsi seseorang terbentuk pada usia remaja. Di samping itu, remaja biasanya mudah terbujuk rayuan iklan, suka ikut-ikutan teman, tidak realistis, dan cenderung boros dalam menggunakan uangnya. Sifat-sifat remaja inilah yang dimanfaatkan oleh sebagian produsen untuk memasuki pasar remaja.

Melihat karakter remaja yang seperti itu, pengelola televisi melihat bahwa program jenis tersebut akan lebih ‘laku’ jika targetnya adalah remaja. Ini terbukti.

Jika mau melihat sukses AFI, kita dapat melihat bahwa satu spot iklan pada acara AFI mencapai angka 18 juta dan setiap konser AFI disediakan 24 spot iklan. Belum lagi pendapatan-pendapatan lainnya seperti layanan sms dan premium call dimana pemenang kontes tersebut ditentukan dengan cara voting pemirsa. Sms yang masuk setiap minggunya bisa mencapai 150.000-250.000 sms. Memasuki babak Grand Final, sms yang masuk meningkat hingga 500.000 sms setiap minggunya.

Jika mau dibuat daftar, maka jenis-jenis keuntungan yang diperoleh stasiun televisi hasil ajang pencarian bakat seperti ini yaitu berasal dari pendaftaran (uang administrasi pendaftaran), proses seleksi yang direkayasa (dipelopori oleh tayangan proses seleksi Indonesian Idol) yang mendapat pemasukan iklan dan juga proses karantina (yang biasanya juga disponsori oleh pengiklan), tayangan konser/ proses eliminasi (contoh: spektakuler show Indonesian Idol, Mamamia Show), sms pemirsa pada saat proses eliminasi, kontrak atas bintang yang dihasilkan dari ajang tersebut yang biasanya bersifat eksploitasi atas artis tersebut , album/ produk yang dibuat dari ajang tersebut, dan acara-acara off air yang diselenggarakan yang biasanya dapat mendatangkan penonton remaja yang begitu banyak. Disamping itu, hal pokok dari acara ini adalah banyaknya remaja yang menonton yang membuat rating acara seperti ini tidak terlalu rendah, bahkan ada yang begitu tinggi.

Munculnya eksploitasi terhadap audiens oleh televisi sesungguhnya merupakan bagian dari sistem kapitalisme. F. Vito mendefinisikan kapitalisme sebagai suatu sistem ekonomi dengan karakteristik: 1) adanya kebebasan beraktivitas bagi pelaku ekonomi, 2) adanya hak milik privat dari alat-alat produksi, dan 3) adanya persaingan. Saat ini, kapitalisme masih menjadi sistem ekonomi yang dominan di dunia pasca runtuhnya komunis.

Berdasarkan Teori Marxist, sistem ekonomi menjadi dasar segala sesuatu (base) dan mempengaruhi super structure, yaitu kumpulan institusi yang ada dan mempengaruhi pemikiran masyarakat. Pada media massa, kapitalisme telah membuat media memiliki tujuan utama untuk mencari keuntungan sebesar-besarnya yang dapat dilakukan dengan segala cara, jika melihat kembali karakteristik kapitalisme. Hal ini yang kemudian melatarbelakangi munculnya eksploitasi yang dilakukan media terhadap audiens/ khalayak, khususnya remaja.

Jika kita kembali kepada permasalahan di atas, maka ideologi yang disebarkan oleh media yaitu bahwa bintang (star), adalah manusia sempurna yang harus diidolakan. Bintang di media digambarkan sebagai sosok yang mewah, glamour, sempurna, dan menyebabkan ribuan remaja mengangankan untuk menjadi bintang. Media massa jarang mengajarkan bagaimana para bintang itu bekerja keras dari nol hingga berada di puncak kesuksesan. Yang sering digambarkan media mengenai bintang hanyalah kesenangan dan gaya hidup mereka. Penonton remaja tidak tahu dan juga tidak diajarkan bagaimana bintang tersebut mendapatkannya. Akibatnya, muncullah generasi yang menginginkan kesuksesan secara instan. Ini karena mereka tidak pernah diajarkan bagaimana berjuang medapatkan kesuksesan. Yang mereka tahu hanyalah ketika bintang tersebut telah berada di puncak sukses.

Keinginan untuk menjadi bintang, kaya dan terkenal, secara instan inilah yang membuat berbondong-bondong antri untuk mengikuti audisi ajang pencarian bakat yang diselenggarakan oleh televisi. Sukses dengan edisi perdana, biasanya televisi tersebut akan membuat yang kedua, ketiga, dan seterusnya. Contoh-contoh remaja biasa yang sukses dengan mengikuti ajang tersebut kemudian menjadi “heroes” yang menjadi cerminan bagi remaja lainnya, secara umur dan kondisi sosial-psikologis. Kemudian mereka menjadi acuan bagi remaja lainnya untuk mengikuti jejak mereka.

Menurut teori Marxist, kelas penguasa menyebarkan suatu ideologi yang memberi pembenaran pada statusnya, yang menyulitkan kebanyakan orang untuk menyadari bahwa mereka sedang menjadi korban eksploitasi. Anggapan bahwa jumlah besar orang dimanipulasi dan dieksploitasi oleh kelas penguasa merupakan salah satu argumen utama dari analisis kultural Marxist.

Masih dalam pandangan Marxist, media merupakan alat (tools) untuk memanipulasi, sebab media massa dan budaya populer berperan penting dalam penyebaran false consciusness dan menjaga hegemoni serta ideologi penguasa.
Namun pertanyaannya, dalam konteks permasalahan di atas, kelompok penguasa mana yang oleh media dipertahankan hegemoni dan ideologinya? Jawabannya adalah kelompok media itu sendiri! Media menggunakan pengaruhnya sendiri untuk mempertahankan kekuasaannya agar tetap dapat mengambil keuntungan sebanyak-banyaknya dari pemasukan iklan.

Mengenai konsep iklan pada masalah ini, berbeda dengan iklan yang dimaksudkan oleh Marxist. Pada teori Marxist, iklan yang dimaksud adalah cara penyampaian pengumuman kepada suatu khalayak dengan menggunakan perantara media massa. Sedangkan pada masalah ini, iklan adalah sebagai satu-satunya sumber dana yang membiayai media massa. Namun persamaannya adalah, iklan memegang peranan penting dalam masyarakat kapitalis terutama dalam industri media saat ini.

Jika kita melihat lagi dengan cermat, siapa yang diuntungkan dibalik adanya berbagai ajang pencarian bakat tersebut, jawabannya adalah media massa, dalam hal ini stasiun televisi yang bersangkutan. Remaja hanyalah menjadi korban eksploitasi media. Remaja yang merasa bahwa ajang seperti ini adalah salah satu kendaraannya menuju impiannya menjadi bintang/ selebritas merasa senang dengan adanya ajang seperti ini. Namun tanpa dia sadari, ajang ini adalah alat untuk mengeksploitasi mereka. Dalam hal ini media memberikan kesadaran palsu kepada remaja. Kesadaran palsu tersebut dikonstruksi melalui pengaruh media itu sendiri.

Secara tidak langsung, remaja “dijual” oleh media kepada pengiklan. Jadi siapa sebenarnya penguasa disini? Pengiklan atau media? Atau keduanya? Semua saling memengaruhi. Namun yang jelas, satu hal tetap pasti bahwa remaja, tetap merupakan korban eksploitasi mereka.

Taman Bacaan: Sarana Menumbuhkan Minat Baca Anak

Oleh: Dhinny El Fazila
Ketua Dept. Dokuminfo Rumah Cahaya FLP

Dominasi televisi dalam kehidupan masyarakat, terutama anak-anak saat ini, telah dapat dikatakan sangat mengkhawatirkan. Jika orang jepang menonton televisi dalam sehari kurang dari lima jam, maka bandingkan dengan anak-anak Indonesia (dan mungkin para orang tuanya) yang menonton televisi bisa lebih dari sepuluh jam, bahkan bisa mencapai dua puluh jam! Anak-anak sekarang bahkan ada yang jadwal televisinya mengalahkan apapun. Televisi telah menjadi candu bagi anak-anak dan masyarakat Indonesia pada umumnya.

Televisi dengan kekuatan audio visualnya tidak sekedar memudahkan anak untuk menangkap apa-apa yang disampaikan. Lebih dari itu, televisi tidak memberi kesempatan bagi anak untuk mencerna apa yang ada pada acara televisi tersebut. Sifat audio visual televisi sesungguhnya merupakan kekuatan sekaligus kelemahan televisi. Tidak adanya jeda pada gambar yang bergerak diperkuat dengan suara membuat otak anak tidak sempat mencerna mana yang baik dan buruk pada acara televisi tersebut. Ini menjadi masalah tatkala televisi hanya berorientasi pada rating dan keuntungan sehingga tidak memikirkan bentuk acara seperti apa yang dapat memberi manfaat bagi penontonnya, namun lebih memikirkan acara seperti apa yang laku dijual.

Berbeda dengan televisi, buku merupakan media yang hanya bersifat visual saja. Selain itu buku bukan merupakan rangkaian adegan yang bergerak terus-menerus. Sifat buku ini membuat otak anak dapat beristirahat sebentar dan mencerna isi buku tersebut. Orang tua pun dapat dengan mudah mengarahkan pada anak tentang isi buku tersebut. Dilihat dari sifatnya saja, media buku tampaknya lebih ramah bagi anak daripada media televisi.

Mengapa buku lebih baik daripada televisi? Ini disebabkan karena kentalnya orientasi profit media televisi. Mahalnya ongkos untuk mendirikan sebuah stasiun televisi dan mahalnya biaya produksi televisi membuat mereka sangat berorientasi pada keuntungan semata. Ini menyebabkan televisi seringkali kehilangan idealismenya. Moral anak-anak Indonesia menjadi taruhannya ketika televisi menyajikan acara-acara yang kurang bermutu, dan itu dengan mudahnya menjadi konsumsi anak-anak yang belum cukup umur bahkan belum bisa mencerna mana yang baik dan mana yang buruk. Ini berbeda dengan buku. Ongkos produksi untuk mencetak buku tidak semahal ongkos produksi untuk membuat sebuah tayangan di televisi. Ini menyebabkan produksi buku tidak pernah kehilangan idealismenya.

Buku memang menjadi alternatif media yang ramah dan aman bagi anak-anak. Selain karena buku memiliki sifat yang ’ramah’, buku juga memiliki segmen khusus anak-anak yang aman dibaca dan mendidik. Selain itu buku memiliki banyak ragamnya sehingga kita bebas memilih buku seperti apa yang akan kita baca. Ini berbeda dengan acara televisi yang cenderung kurang variatif dan sedikit pilihan. Oleh karenanya, penting bagi kita untuk menumbuhkan minat baca, terutama minat baca anak.

Kurangnya minat baca anak dapat disebabkan oleh berbagai faktor. Salah satunya adalah kurangnya pembiasaan oleh orang tua. Kurangnya minat baca orang tua dapat berpengaruh pada kurangnya minat baca anak. Oleh karena itu, pembiasaan terhadap membaca seharusnya dimulai dari lingkungan pertama anak, yaitu rumah. Jika dirumah terdapat perpustakaan, meskipun kecil, ini akan mendorong anak untuk gemar membaca. Atau pembiasaan lain seperti berlangganan majalah anak. Masalahnya seringkali orang tua kurang memiliki kesadaran dalam hal pembiasaan membaca terhadap anak.

Fungsi ini sebenarnya juga dapat diambil oleh sekolah. Perpustakaan sebagai sarana yang ada di sekolah seharusnya dapat mengambil fungsi tersebut. Namun sayangnya, saat ini rasanya sekolah belum mampu untuk menangani lemahnya minat baca para siswa. Dapat dilihat, perpustakaan sekolah sangat jarang dikunjungi. Kalaupun ada yang datang, perlu dilihat lagi, buku apa yang dibacanya. Moga-moga memang benar-benar buku yang layak dibaca. Tapi kebanyakan siswa-siswa memilih komik untuk di baca di perpustakaan. Tak salah sebenarnya kalau mereka memilih komik untuk dibaca, karena bagi mereka hanya itu yang menarik. Masalahnya adalah bagaimana agar buku-buku yang mendidik itu juga menarik untuk mereka baca.

Hadirnya rumah-rumah baca atau perpustakaan keliling sepertinya cukup membantu dalam menarik minat baca anak. Sebut saja Forum Lingkar Pena (FLP) yang dipelopori oleh Helvy Tiana Rosa, saat ini telah memiliki banyak perpustakaan yang dinamakan Rumah Cahaya yang merupakan kepanjangan dari Rumah Baca Hasilkan Karya. Di rumah ini, anak-anak sekitar dibebaskan untuk membaca buku-buku yang ada disana tanpa dipungut biaya apapun. Buku-buku yang disediakan pun memiliki segmen khusus anak-anak. Mereka bebas membaca sambil bermain di sana. Tempat-tempat baca seperti ini sebenarnya sangat potensial dalam memberikan kontribusi secara informal bagi pendidikan dan minat baca anak. Hanya saja tempat-tempat seperti masih kalah booming sosialisasinya ketimbang pusat-pusat perbelanjaan atau tempat-tempat rekreasi. Biasanya tempat-tempat seperti inipun terbatas pengunjungnya. Hanya anak-anak yang memang sudah gemar membaca yang sering datang berkunjung.
Untuk itu, selain disediakannya buku-buku yang menarik minat anak, sebenarnya perlu diadakan acara-acara yang menarik minat anak untuk datang ke taman-taman bacaan seperti ini. Dongeng atau lomba mungkin bisa jadi salah satu alternatifnya.

Saat ini, FLP telah memiliki beberapa Rumah Cahaya yang tersebar di berbagai daerah. Sebut saja Aceh, Bandung, Bekasi, Depok, Penjaringan, dan masih banyak lainnya. Bahkan Rumah Cahaya terakhir yang baru diresmikan, yaitu di Depok 2 Timur, memiliki kisah uniknya sendiri.
Rumah Cahaya Depok 2 Timur baru saja diresmikan seminggu yang lalu dan dihadiri oleh Helvy Tiana Rosa serta anaknya Abdurrahman Faiz. Rumah Cahaya ini didirikan di rumah seorang anggota FLP Depok. Beliau memiliki seorang anak yang sangat gemar membaca. Seringkali sang ayah harus kerepotan saat membawa anaknya ke toko buku karena di sana anak tersebut baru mau pulang jika sudah membaca sepuluh buku atau lebih. Akhirnya, karena alasan itulah, sang ayah membuatkan Rumah Cahaya di rumahnya agar sang anak bisa membaca sepuasanya dirumahnya. Selain itu agar teman-teman anaknya dan tetangga-tetangganya bisa ikut menikmati bacaan dirumahnya. Menurut ibunya, anak ini memang sudah terbiasa dan bisa membaca sejak kecil sebelum masuk sekolah. Ibu dan ayahnya pun adalah orang-orang yang sangat suka membaca.

Memang tidak semua anak gila membaca seperti anak tersebut. Namun adanya pembiasaan, banyaknya buku di rumah, dan kemampuan membaca yang cukup dini dapat merangsang anak untuk gemar membaca. Ini baik untuk perkembangan anak itu ke depan. Sebab buku, hingga saat ini, masih menjadi sumber informasi yang utama bagi kebanyakan masyarakat. Meskipun kini ada media internet sebagai sumber informasi, namun internet belum terlalu akrab dengan seluruh lapisan masyarakat sehingga buku masih menjadi yang utama.

Fenomena Rumah Cahaya FLP sebenarnya tidak berdiri sendiri. Banyak taman-taman bacaan dan perpustakaan yang lain yang juga memiliki visi serupa. Hanya saja masih banyak yang belum tersosialisasikan dengan baik atau masih terbatas dalam pengelolaannya. Padahal membaca adalah salah satu syarat dalam dunia pendidikan. Oleh karena itu, kampanye gemar membaca harus dibunyikan lebih keras lagi. Sebab ini adalah bagian dari pendidikan terhadap generasi bangsa selanjutnya, agar yang tumbuh bukan sekedar generasi yang ingin menjadi kaya dan terkenal dengan cepat seperti yang kita lihat di televisi. Kita tentunya menbgharapkan anak-anak di masa mendatang adalah generasi yang berwawasan luas, bervisi jauh ke depan, serta memiliki koral dan budi pekerti yang baik. Bukan generasi instan ala televisi.

Ketika Juru Cerita Meninggalkan Buku

Oleh: Denny Prabowo
Ketua Divisi Rumah Cahaya FLP

“Ceritakan padaku tentang kehilangan,” kata Upik pada tukang cerita itu. Maka tukang cerita itupun berkisah tentang bandana.

Demikianlah Seno Gumira Ajidarma (SGA) kerap mengawali ceritanya. Apa yang dilakukan SGA mengingatkan kita pada peran penting seorang juru cerita / tukang cerita di masa lalu, ketika sastra lisan menjadi satu-satunya media dalam penyampaian ajaran atau pesan. SGA seolah ingin mengembalikan peran itu dalam bentuknya yang lain: tulisan.

Kehadiran seorang juru cerita yang tampil sebagai narator di dalam cerpen-cerpen SGA, membuat pembaca seperti ‘mendengar’, walau pada kenyataannya tetap harus membaca. Ini merupakan bentuk kreativitas yang mungkin sekali mampu mengembalikan kegairahan pada sastra tulis seperti di era Hamzah Fansuri dengan Syair Perahunya yang ditulis pada abad ke-17 M, dan Raja Ali Haji dengan Hikayat Abdul Muluk yang ditulis bersama adiknya—Raja Zaleha pada tahun 1846 M.

Namun, usaha SGA menampilkan ‘suara’ juru cerita di dalam cerpennya, tak cukup membuat kegiatan membaca menjadi lebih mudah daripada mendengar langsung sebuah cerita yang dilisankan. Dan juru cerita pun menemukan eksistensinya dalam bentuk yang lebih mendekati aslinya melalui televisi: Iklan, sinetron, telenovela, dan film seri yang mendominasi mata acara TV dapat dijadikan representasi yang pas dari sastra lisan kontemporer ini.

Salah satu keberhasilan sastra lisan dalam menyampaikan pesan dan ajaran adalah karena bentuknya yang audio visual. Cerita yang disampaikan melalui mulut dan peragaan sang juru cerita tentunya lebih mudah diterima. Kita hanya perlu duduk melihat dan mendengar juru cerita menyampaikan sebuah kisah. Berbeda halnya dengan sastra tulis yang membutuhkan energi untuk menekuni tiap kata dalam cerita.

Kehadiran televisi yang menjadi mediator sekaligus narator dalam terbentuknya ‘komunikasi sastra’ yang ditopang simulasi teknologi informasi kian memanjakan kita dalam menerima pesan dan ajaran. TV kemudian menjelma jadi juru cerita yang mendongengkan kisah tanpa harus berjalan door to door, cukup disiarkan melalui pemancar dan juru cerita pun siap menyapa melalui layar kaca di tiap pintu rumah pada waktu yang bersamaan.

Inilah yang sesungguhnya memiliki andil besar terhadap rendahnya minat baca di Indonesia. Data BPS pada 2003 menunjukkan sekitar 84,94 % penduduk usia 10 tahun lebih suka menonton televisi. Hanya 22,06 % saja yang mengatakan suka membaca koran dan majalah. Jadi, jangan heran jika minat baca masyarakat Indonesia di kawasan Asia Tenggara hanya menempati peringkat ke empat di bawah Malaysia, Thailand, dan Singapura. Agaknya tidak berlebihan kalau dikatakan penetrasi televisi menjadi biang keladi terbesar terkikisnya kebiasaan membaca di masyarakat kita.

Kondisi ini kian diperparah dengan sistem pendidikan yang tak mambuat siswa menjadi akrab dengan buku. Taufik Ismail dalam makalahnya Budaya Membaca dan Menulis yang disampaikan dalam sebuah seminar sastra yang diadakan oleh Forum Studi Islam FEUI, menyampaikan data, pada tahun antara 1939-1942 Algemene Middelbare School (SMA zaman Belanda) Yogyakarta mewajibkan siswa membaca 25 buku sastra dalam waktu 3 tahun, tak jauh di bawah SMA Forest Hill New York yang mewajibkan siswanya membaca 30 buku pada tahun 1987-1989.

Pada awal tahun 1950, ketika pemerintahan telah sepenuhnya berada di tangan Indonesia, wajib baca 25 buku sastra dan bimbingan menulis digunting habis! Demi mengejar ketertinggalan pembangunan, pemerintah lebih mengunggulkan dan menyanjung jurusan eksakta, ekonomi, dan hukum. Padahal, menurut Taufiq Ismail sastra merupakan stimulus untuk meletakkan dasar kebiasaan dan kesenangan membaca buku, sehingga menjadi jembatan menuju literasi buku apa pun dalam disiplin ilmu yang diambil.

Apabila kondisi ini dibiarkan tanpa usaha meningkatkan minat baca dari berbagai pihak, maka jangan salahkan jika juru cerita semakin enggan tinggal di dalam buku, dan meninggalakan buku terasing di rak-rak penuh debu. Dengan begitu, penjajahan budaya oleh kaum kapitalis di negeri ini menjadi semakin mudah.

Rumah Cahaya FLP, 29.0807

Orang Tua Penumbuh Minat Baca-Tulis

Oleh: Koko Nata
Ketua Dept. Program Rumah Cahaya FLP

Sejak tahun lalu, beberapa orang tua sering menelepon saya, menanyakan apakah di Forum Lingkar Pena (FLP) ada program menulis untuk anak-anak? Para orang tua tersebut ingin sekali anaknya bisa mahir menulis seperti Faiz, Izzati dan Caca. Buku-buku para penulis cilik tersebut telah banyak berjejer di rak toko buku. Saya terpaksa minta maaf. Saat itu FLP belum punya program pelatihan menulis untuk anak-anak. Rencananya baru awal tahun 2008 FLP baru akan menggulirkan kelas menulis kreatif untuk anak-anak.

Pengurus FLP di berbagai kota dan kabupaten memang rutin menerima anggota dan mengadakan pelatihan menulis. Selama ini anggota yang dibina kebanyakan berusia 13 tahun ke atas. Untuk usia di bawah itu, belum. Mungkin akan ada pertanyaan, kalau FLP belum membina anak-anak, kenapa Faiz dan Caca sering mengatakan bahwa mereka adalah anggota FLP Kids?
Helvy Tiana Rosa, salah satu pendiri FLP lah yang mempopulerkan FLP Kids untuk Faiz, putra sulungnya. Faiz yang ketika itu masih duduk di sekolah dasar tahun pertama ingin sekali terlibat dalam kegiatan FLP. Sejak usia 5 tahun Faiz mulai menulis. Tiga tahun berikutnya penerbit DAR! Mizan membukukan kumpulan puisi Faiz: Untuk Bunda dan Dunia. Belakangan Caca, sepupu Faiz yang juga putri Asma Nadia, menerbitkan kumpulan cerpen ‘Dunia Caca’ Saat peluncuran atau bedah buku mereka kerap menyebut bagian dari FLP Kids. Maka dari itu banyak yang mengira FLP memang punya divisi khusus untuk melatih anak-anak menulis.

Lalu, siapa yang mengajari mereka, penulis-penulis cilik menulis?
Satu hal yang perlu disadari oleh orang tua yang ingin anaknya mahir menulis, penulis-penulis cilik tidak lahir dengan sulap. Sebagian besar mereka berproses: tumbuh di lingkungan keluarga yang gemar membaca, orang tua merangsang anak cinta baca, mengajari anak menuliskan pikirannya. Buku menjadi teman bermain dan bercanda. Buku makanan sehari-hari. Tak heran bila mereka suka membaca lalu tergerak untuk menulis.

Peran orang tua untuk menanamkan kebiasaan membaca sejak dini sangat penting -baru kemudian melangkah ke aktivitas menulis. Sebisa mungkin anak dibiasakan lebih suka membaca daripada menonton. Asma Nadia kerap memberikan buku-buku superhero untuk Adam putra bungsunya yang masih duduk di bangku TK. Adam sangat suka dengan jagoan-jagoan super. Asma mengalihkan tayangan layar kaca ke buku. Adam hanyut dalam bacaan sehingga lahirlah sebuah cerpen dari tangan Ada, judulnya The Click Man. Bercerita tentang jagoan super yang bisa masuk ke dalam foto. Cerpen Adam ini terdapat dalam kumpulan cerpen bersama “Tangan-tangan Mungil Melukis Langit (Lingkar Pena, 2006).

Sedangkan Helvy memperkaya kosakata bahasa Faiz dengan bermain scrabble Bertiga dengan Ibu dan Ayahnya Faiz mengisi waktu luang dengan hurup-hurup scrabble. Bila kita membaca 5 buku Faiz yang telah terbit, terlihat Faiz memiliki kekayaan bahasa melampaui anak-anak seusianya. Di usia menjelang 12 tahun, Faiz sudah berpuitisasi layaknya penyair dewasa.
Sebelum tidur Helvy juga kerap membacakan cerita untuk Faiz. Salah satu cerita yang disukai Faiz adalah kisah Nabi dan Sahabat. Kekaguman Faiz pada salah satu sahabat Rasullullah; Umar bin Khatab, menginspirasi Faiz menulis karakter Umar dalam naskah surat untuk presiden Megawati. Faiz mendambakan seorang presiden yang sederhana dan peduli. Umar bin Khatab sering berjalan-jalan untuk mengetahui keadaan rakyatnya di malam hari. Faiz mengajak Presiden Megawati untuk juga melakukan hal serupa. Naskah ini memenangkan juara pertama lomba menulis surat untuk presiden tahun 2003 yang diadakan oleh Dewan Kesenian Jakarta. Tokoh Umar bin Khatab juga muncul dalam cerpen Cincin Frodo dalam kumpulan cerpen yang sama dengan Adam.

Cara lain yang dipakai Helvy maupun Asma Nadia dalam merangsang minat baca-tulis anak-anaknya adalah dengan permainan tebak kata, persamaan kata dan lawan kata. Hal ini kerap dilakukan di dalam mobil ketika Helvy, Asma Nadia dan keluarga bepergian bersama. Misalnya ketika melewati jalan yang macet, Helvy melontarkan pertanyaan: Apa lawan kata dari macet? Faiz, Caca dan Adam akan berebutan menjawab lawan kata macet, juga mencari persamaan katanya.

Kebiasaan memberi hadiah buku, mendongeng, dan permainan kata terkesan sepele. Semua orang bisa melakukannya. Tetapi, marilah kita berhitung, berapa banyak orang tua yang sempat mendongeng untuk anaknya. Banyak orang tua menyerahkan urusan mendongeng pada televisi; biar mereka nonton dan televisi berbicara. Memang tayangan televisi lebih menarik. Tapi si anak akan menjadi pasif. Ia tak punya kesempatan untuk berimajinasi dan merespon balik. Televisi memberikan tayangan audiovisual; penonton mendapat satu kesan audio maupun visual. Sedang bila orang tua mendongeng, anak-anak dapat berimajinasi dengan bebas. Antara orang tua dan anakpun akan terjalin komunikasi aktif melalui diskusi cerita dongeng.

Sah-sah saja jika ada orang tua yang mengikutkan anaknya pada kursus membaca. Sekarang banyak lembaga yang menawarkan program membaca untuk balita. Beberapa kelas menulsi untuk anakpun mulai bermunculan. Tapi yang paling ideal mengajari anak memebaca dan merangsang mereka untuk menulis adalah orang tua. Ada manfaat psikologis yang akan didapatkan selain keterampilan baca-tulis anak.

Untuk menumbuhkan minat baca-tulis itu, orang tua harus lebih dulu suka membaca dan biasa menulis. Dan setiap orang tua yang pernah sekolah -apalagi sampai menempuh pendidikan tinggi, dan sekarang berumah tangga pasti bisa membaca dan menulis. Ketika sekolah harus menempuh ujian yang ditulis, melamar pekerjaan harus mengirimkan lamaran tertulis, bekerja harus membuat laporan tertulis, saat penjajakan; dalam proses menuju pelaminan calon orang tua kerap membuat puisi atau surat untuk pasangannya. Jadi setiap orang tua pasti bisa membaca juga menulis.

Apabila ada yang merasa tidak bisa, mungkin hanya belum terbiasa. Maka dari itu, bangunlah kebiasaan cinta membaca dan menulis dalam keluarga. Sungguh indah bila kebiasaan membaca dan menulis menjadi budaya keluarga. Keluarga yang gemar baca tulis akan membentuk masyarakat cinta baca tulis. Dan masyarakat pecinta baca tulis akan membentuk bangsa yang maju, yang selalu membaca dan menulis. Jika sudah begini bangsa Indonesia dapat mengejar ketertinggalannya dari negera-negara lain yang sudah maju budaya baca tulisnya. Semua budaya baik itu dapat berawal dari rumah.
/

Mitra Kami

Photobucket Photobucket Photobucket
 

Followers

Photobucket

Rumah Cahaya FLP Copyright © 2009 BeMagazine Blogger Template is Designed by Blogger Template
In Collaboration with fifa